setelah hampir satu hari lamanya hujan
sedari pagi.
sempat aku terguyur oleh rintik-rintiknya
dan kemudian aku harus berpapasan dengan angin.
dinginnya semakin menusuk.
sepertinya aku perlu pergi ke suatu tempat
dimana aku dapat menghangatkan tubuhku
atau mungkin tenggorokanku.
ya.
coffeshop.
bangku-bangkunya terbuat dari kayu yang telah digerinda
sudutnya pun dibuat lengkung.
ornamen lainnya menampilkan gurat kayu.
lampu kuning yang temaram.
aroma kopi di udara.
menghangatkan.
cukup ramai.
tak ada pengunjung yang duduk di luar
dingin.
di seberangku duduk dua muda mudi
tertawa dalam senyum hangat.
di dekat pintu ada seorang anak perempuan
rambutnya dikepang dua
ia memainkan tumbuhan yang menyerupai rambut kepangnya.
kopiku datang.
lekas ku raih gelas kopiku.
uh, panas.
kaca gelas ini tidak setebal yang kukira.
aku memainkan sendok dalam genggamanku.
aduk, aduk, aduk
barangkali permainan ini dapat menghilangkan panas jemariku.
aduk, aduk, aduk
kemudian ku teguk kopi dari sendok mungil ini dan
ah!
masih terlalu panas rupanya.
lantas ku tuang kopiku ke piring alasnya.
semacam menikmati kopi dengan sajian ala bapak.
sejenak ku edarkan pandanganku ke sekeliling
gadis kepang itu masih bermain di dekat pintu
muda mudi itu masih dalam tawa
ku tenggak kopi yang telah kutuang
terasa ada hangat yang mengalir dalam tenggorokanku
kemudian masuk ke dalam lambungku.
kemudian rasanya naik ke rongga mulutku.
rasanya ada yang aneh.
panas.
perih.
pahit,
aku tahu dan teringat
aku tidak suka kopi.
kali ini membahas kopi.
membahas aku tidak suka kopi namun minum kopi? bukan.
No comments:
Post a Comment