1/31/2021
take a sip, please
1/27/2021
"seingatku ia tak diharapkan,"
kala itu malam tidak mendukung aku selayaknya aku seperti biasa
bukan aku yang periang
pemurung ini datang lagi
aku mengira ia telah pergi sedari sekian lama
tapi rupanya ada sosok lain yang merindukannya
menginginkannya untuk hadir
tak tahukah ia betapa menjengkelkannya sang pemurung ini
yang bahkan tidak pernah diharapkan sebelumnya
tapi ia seolah diundang
umtuk mematri apa-apa saja yang diharapkan dibumihanguskan olehnya
konyol
tindakan yang mengundang celaka
tapi seperti memang bara yang dicari
pemurung sial
ia bahkan penat atas yang ia tampung
pikirannya liar
ia berlarian dalam akalnya yang tak lagi diam
kakinya ia hujami dengan puluhan kerikil legam
setelahnya
dua genggam pasir ia kepalkan
entah apa yang ia harapkan
apakah batuan pasir
atau melunakkannya
mulutnya masih berucap seolah meneriakkan sesuatu
yang memekakkan telinga
tapi
memangnya ada yang bisa mendengarkan teriakkan
bukankah pemurung hanya bisa menguras air matanya?
tanpa suara?
tanpa teriakan?
tanpa ada sesuatu yang perlu didengar?
tanpa apapun yang dapat ia rasa?
bukankah ia hanya hidup dalam keheningan
yang orang lain tak perlu pun tak bisa paham?