1/18/2017

kelopak

Tidak ada yang dapat melegakan dada
selain menghela nafas
tanpa perlu aku menarik nafas dalam-dalam
aku dapat menghembuskan nafas panjang
dan berat

untungnya saja pot ini tidak hanya berisikan tanah
sudah beberapa lama ini aku memandangi kuncup yang terayun-ayun dikala aku memindahkan pot mungil ini
akhirnya sekarang telah merekah
bunga dengan kelopak berwarna putih
serta semburat kuning agak oranye di pangkal kelopaknya
manis sekali

aku kira lebah yang seringkali menghantamkan dirinya ke kaca jendelaku akan kemari
kukira ia menantikan kuncup yang kemudian mekar seperti sekarang ini
sepertinya tidak

pot mungil berbahan tanah liat ini tidak lebih dari dua telapak tangan orang dewasa
mungkinkah tidak terlihat oleh orang lain?
atau bahkan bunga itu sendiri?

mungkin hanya aku saja yang menantikan kuncup ini
sekarang ia sudah merekah

setidaknya aku bisa mencoba menghirup nafas dalam-dalam
di depan bunga ini
tarik nafas.....
tahan.

hembuskan.



sekadar relaksasi diri

1/09/2017

coffee-

malam ini terasa sejuk
setelah hampir satu hari lamanya hujan
sedari pagi.

sempat aku terguyur oleh rintik-rintiknya
dan kemudian aku harus berpapasan dengan angin.
dinginnya semakin menusuk.

sepertinya aku perlu pergi ke suatu tempat
dimana aku dapat menghangatkan tubuhku
atau mungkin tenggorokanku.
ya.
coffeshop.


bangku-bangkunya terbuat dari kayu yang telah digerinda
sudutnya pun dibuat lengkung.
ornamen lainnya menampilkan gurat kayu.
lampu kuning yang temaram.
aroma kopi di udara.
menghangatkan.

cukup ramai.
tak ada pengunjung yang duduk di luar
dingin.
di seberangku duduk dua muda mudi
tertawa dalam senyum hangat.
di dekat pintu ada seorang anak perempuan
rambutnya dikepang dua
ia memainkan tumbuhan yang menyerupai rambut kepangnya.


kopiku datang.
lekas ku raih gelas kopiku.
uh, panas.
kaca gelas ini tidak setebal yang kukira.
aku memainkan sendok dalam genggamanku.
aduk, aduk, aduk
barangkali permainan ini dapat menghilangkan panas jemariku.
aduk, aduk, aduk

kemudian ku teguk kopi dari sendok mungil ini dan
ah!
masih terlalu panas rupanya.
lantas ku tuang kopiku ke piring alasnya.
semacam menikmati kopi dengan sajian ala bapak.

sejenak ku edarkan pandanganku ke sekeliling
gadis kepang itu masih bermain di dekat pintu
muda mudi itu masih dalam tawa
ku tenggak kopi yang telah kutuang

terasa ada hangat yang mengalir dalam tenggorokanku
kemudian masuk ke dalam lambungku.
kemudian rasanya naik ke rongga mulutku.

rasanya ada yang aneh.
panas.
perih.
pahit,

aku tahu dan teringat
aku tidak suka kopi.



kali ini membahas kopi.
membahas aku tidak suka kopi namun minum kopi? bukan.

1/08/2017

aku baik-baik saja.

aku baik-baik saja.

masih dapat kurasakan getar debur ombak
kala itu
bagaimana buih-buihnya menggelitik kakiku
aku masih bisa merasakannya

ingin aku kembali lagi ke sana
pasir putih yang terhampar di seluruh penjuru
mataku menyapu kilaunya yang berpadu dengan sinar matahari
aku tersenyum dan terbaring

kala itu
teriknya menyilaukan
namun menghangatkan
menyelaraskan sejuknya air yang melarutkanku ke dalamnya

air asin itu menyelimutiku dengan dingin
mentariku masih menghangatkanku
baiknya ku pejamkan mata

rambutku tersapu
berayun berirama mengikuti ombak
tubuhku ikut menari bersama gelombang
kesana kesini
tapi ini menyenangkan
dan menenangkan

dalam kelamnya pandanganku
aku masih dapat mendengar teriakan-teriakan itu
senda gurau orang-orang
benturan tubuh manusia dengan air
jeritan-jeritan yang cukup memekakkan telinga

aku masih berbaring di atas laut

air yang menyelimutiku semakin dingin
jari kakiku terasa membeku
dan kaku
namun aku masih terpejam dan merasa tenang
mentari masih terjaga
masih ada hangat yang memapar

aku tidak menghitung berapa kali tubuhku terombang-ambing
membiarkan gelombang mengendalikan tubuhku
aku hanya masih terbaring


sudah tidak terdengar lagi langkah kaki
ataupun jeritan-jeritan itu

aku tidak tahu seberapa jauh aku terhanyut
satu hal yang aku tahu
sang surya sudah tidak bersamaku

tak kurasakan lagi pendarnya dari balik kelopak mataku
kakiku sudah tidak lagi beku dan kaku
sudah tidak lagi beku dan kaku
sudah tidak lagi beku dan kaku sendirian
karena sekujur tubuhku telah beku dan kaku

aku bahkan tak sempat merasakan gelembung-gelembung yang sepatutnya kukeluarkan saat aku direngkuh erat air

aku masih terbaring
di dasar laut



aku masih bisa merasakannya
bagaimana buih-buihnya menggelitik kakiku
kala itu
masih dapat kurasakan getar debur ombak

aku baik-baik saja.





-taterkart
terinspirasi dari foto-foto orang di pantai.
meski tidak ada hubungannya
dengan inti teks di atas.
terima kasih foto-foto kalian.


1/05/2017

barangkali aku perlu membuka isi kepalamu

barangkali.

kalau saja,
ada sebilah pisau di sebelahku.
tidak, tidak,
itu tidak cukup.
tidak akan sanggup.

tapi mungkin pisau cukup.
pisau daging yang memiliki tinggi satu jari telunjukku,
mungkin cukup kuat
dan tajam.

dimana bisa ku asah?
seberapa tajam?
bagaimana aku mengetahui ketajamannya?
akan menyakitkan jika pisau ini tumpul, bukan?
karena perlu menghujamkannya ke kepalamu berkali-kali
berkali-kali
hingga tengkorak itu
retak.

mana yang akan lebih mudah terbelah?
sisi pinggir?
tengah?

bagaimana posisinya?
vertikal?
horizontal?

ah, banyak tanya!
hantamkan saja dulu gagangnya ke tengkukmu.
uh!

berputar-putar ya,
berkunang-kunang.

coba rasakan potongan melintang,
siap siap.
aku sayat terlebih dahulu.
uh, perih ya.

krak!
darah
darah
darah

sudah ada celah!
aku harus membukanya lebih lebar
retakan-retakan ini akan memudahkanku.

krak.. krak..
berdenyut-denyut
lucu sekali
hahaha

mari kulihat.


dimana?

dimana??

DIMANA?!


aku sama sekali tidak bisa menemukannya
dimana sembunyinya


tidak.

tidak.
darahnya semakin menutupi pandanganku.
aku tidak bisa menemukannya.

tidak.



cermin bodoh.
kau menipuku.
aku tak bisa menemukannya.
tidak dalam tengkorak ini.

aku tidak bisa mengembalikan tengkorak ini.
aku tidak bisa mengumpulkan darah-darah ini.
aku tidak bisa melanjutk







3a72rx8cfygoper[ngq-iwt0 v253fb28nm9






-taterkart
P.S. I'm not a psychopath.

atas segala kepahitan,
kau harus membayarnya.
manisnya hari-hari dengan tawa,
kau harus membayarnya.
haru biru-mu,
kau harus membayarnya.

tebus semuanya.