Jengah.
Penat.
Dengan segala kemungkinan yang terjadi, aku berserah. ujarku dengan pasrah. Aku kemudian bersandar pada kayu ini, menyandarkan ketenanganku yang tersisa. Meninggalkan ambisiku. Aku mati-matian menahan egoku untuk membiarkan kendaraan ini melaju sesukanya. Entah irama apa yang mengiringi lajunya, aku tidak lagi peduli. Aku telah menempatkan diriku satu level lebih rendah di bawah mereka. Tidak ada manusia lain yang lebih santun dariku dalam melayani mereka, menghormati mereka, dan mengikuti jalur yang mereka mau tentunya.
Aku satu dari mereka, kalian semua, yang paling tersiksa. Membiarkan diriku menaruh harga diriku di dasar.
--------------------------------------------------------------------------------------
Apalagi yang dapat kukatakan?
Apalagi yang dapat kukatakan?
Aku tidak lagi merasakan apapun. Aku telah mati. Mati di tanganku sendiri, dengan tangan mereka.
Aku bahkan tidak bisa mengiringi apapun, hanya kebetulan saja jiwaku melekat pada kendaraan ini. Aku mencintai hidupku yang aku tanam baik-baik pada tiap-tiap partikel yang ada di sini. Aku hidup untuk mati. Mati ku adalah untuk aku dapat hidup di sini. Aku tidak mengerti mengapa mereka semua mengatakan aku begitu bodoh untuk terlalu menutup pandanganku. Mereka bilang aku telah mati, mereka mengatakannya ketika aku masih hidup. Benarkah aku hidup sebegitu singkatnya sehingga mereka menganggapku mati?
Aku seperti ranting kecil nan rapuh yang mudah terhuyung apabila angin menerpaku. Ya, aku sendiri yang melemahkan sandaranku.
Aku masih tidak mengerti mengapa mereka yang ternyata menyiksaku paling dalam, mengorbankan diriku, menjadikan diriku budak yang dengan ringan hati menjadi tumbal.