aku terbangun karenamu dalam mimpi
kemudian kau datang dalam nyata
selanjutnya kita melaju
disibaknya jaket wool-mu oleh sang angin
yang berderu saat kita melawannya
yang hembusannya membawa bicaraku
yang ributnya menyesap ributku ributmu
desir debur berpaut seraya kakimu menapak dipesisir
tenggelam dalam buih ombak yang menggulung
riak dan teriakan yang memekakkan
dalam ria
kita tertawa
sungguh membahagiakan
membenammu dalam pasir
masih dalam gelak
kemudian perjalanan menelan waktu hidup-hidup
dan disapu hujan yang turun dengan lembut
saat rembulan pun tak muncul menggantikan surya
selanjutnya kita tiba
selanjutnya aku tiba
kepalaku pun kuletakkan di bahumu
karna ini bukanlah sekadar sandaran
melainkan tempat bertambat
malam berlalu begitu nyenyak
begitu tentram
begitu indah
No comments:
Post a Comment